Postingan

"Surat Cinta Pertama Kita"

Untukmu yang masih dalam janin lauhul mahfudz. Kusampaikan salam dari bumi, semoga tuhan senantiasa mempertemukan kita dalam naungan rahmat-Nya.   Untukmu yang kelak kupanggil sayang dan selalu kusayangi. Sebelum akhirnya kau pandai membaca, kutuliskan malam ini, surat pertama kita.. ____________________________  Sebelumnya, ibu minta maaf karna ibu tak sehebat bunda hajar.. Sehingga kemungkinan kamu untuk tumbuh menjadi Ismail juga menipis..  Ibu juga tak bisa menghadirkan ayah seperti Ibrahim untukmu. Sebab ibu bukan hajar yang pantas untuk Ibrahim.  Satu yang ibu usahakan untukmu adalah  Walaupun ayahmu bukan Ibrahim, setidaknya ia mirip dengan Luqman Al-Hakim, agar kau punya figur untuk kau jadikan panutan. (Ayo bilang amin) Ibu berusaha meningkatkan kualitas diri, agar semoga bisa menurun padamu nanti.  Ibu siapkan cerita" pembangun jiwa, agar kau tumbuh dalam naungan ilmu, pengetahuan, sejarah dan cinta. Ah ibu begitu ...

Serumpun Mawar yang Tidur

Matahari menggigit kulit. Pada masing-masing hati saling mengumpat kepada waktu yang begitu terik. Jalanan-jalanan yang lengang pun bertambah panas. Terlebih dahan-dahan pinggir jalan yang biasa rimbun sudah patah. Tertebas pisau-pisau kepentingan bersama katanya. Tidak masuk akal. Danang berjalan di atas tanah yang terik itu. Tangannya naik turun menutupi cahaya matahari. Barangkali bisa membuat wajahnya lebih dingin dari suhu di sekitarnya. Ransel yang memeluk punggungnya bergoyang-goyang di bawa kakinya yang setengah berlari. Tap tap tap. Kakinya akhirnya sampai di depan toko bunga yang sedari tadi sudah dicari-cari. Wajah Danang yang hampir hitam terpapar terik menyipitkan kedua matanya. Mencari-cari seseorang di dalam toko lewat kaca bening yang menjaei pembatas. Setelah matanya belum jua menemukan yang dicari, kepalanya menengok ke kanan dan kiri. Tak ada jua yang dicari. Akhirnya tangan kanannya bergerak merogoh saku. Mengambil ponsel dan mengetik sesuatu. Setelah ...

Kolong Waktu

Daun-daun kering yang kosong Terinjak masa dan waktu Soal cemburuku kepadamu Kepada penjatuh daun Siapa pula yang mengaduh Sedang mata sudah tak dapat menutup Di bawah atap tanah liat yang menjadi merah Di bawah mangga hijau yang menggantung-gantung Juga daun-daun yang bergoyang Lihat Daun-daun yang masih kering Meski setelah tersiram Rupanya, Siram matahari yang membuatnya enggan -ma.ms

Review Buku Nonfiksi; Pemikiran Karl Marx

Gambar
Oleh: Ahmad Faiz Muzaki Identitas Buku Judul Buku : Pemikiran Karl Marx Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme  Penulis : Franz Magnis-Suseno Penerbit : Gramedia Pustaka Utama Cetakan : ke-12 Tebal Buku : xvi + 292 halamn Tahun Terbit : 2018 Sinopsis Buku Apa yang terlintas di pikiran Anda ketika mendengar kata Marxis, sosialis, atau bahkan komunis? Mungkin kita akan menganggapnya sebagai sesuatu yang tabu dan momok yang mengerikan sebagai sarana pembebasan umat manusia dari ketidakadilan maupun sumber segala subversi. Meskipun demikian, Karl Marx merupakan seorang filosof, ekonom, dan sosiolog abad ke-19 yang berkat pemikirannya berimplikasi besar pada cara berpikir masyarakat luas pada abad ke-20. Pemikiran Karl Marx atau lebih dikenal dengan Marxisme sangat mendasari semangat kebanyakan gerakan pembebasan sosial. Setelah terjadinya gerakan 30 September 1965 yang dipelopori oleh Partai Komunis  Indonesia (PKI). Pemerintah orde baru sa...

1/; 2/ Dosa Pecandu Kopi

(Puisi Denta 19/20) 1/ Tentang apa malam? Ini? Itu? Iti? Inu? Rindu? Randu? Randa? Rendeng? Absurd. Memang. Langit tak cukup mendung Gerimis tak cukup deras Bintang tak cukup banyak Bulan bahkan belum separuh Untuk masuk bagian sajak ini Tentang : Aku yang tak cukup layak Masuk bagian ceritamu -proximacentaury, menunggu bulan penuh 2/ Dosa Pecandu Kopi Seorang laki-laki Hampir dewasa, menyeret langkah Jelang malam, ia masuk gereja "Bapa, berkatilah saya, sebab saat ini saya seorang pendosa" "Dosa apa kau perbuat anakku?" "Saat saya minum kopi bapa" "Apa yang salah dengan kopimu?" "Bukan fajar pun senja, tadi siang terik, saya tenggak kopi saya. Tidak sudah rasa bersalah saya bapa" "Tidak mengapa anakku, kopi itu miliknya Tuhan, begitupun waktu, ia tidak mengikat kopi. Semuanya kembali ke singgasanaNya Tuhan. Berdoalah, engkau telah diampuni." "Terimakasih B...

Sebuah Surat

“Assalamualaikum. Hai Apa kabar?” Kuharap kau baik baik saja ya dimanapun kau berada. Bagaimana dengan hari-harimu? Apakah selalu menyenangkan seperti biasanya? Ya, kuharap demikian, kuharap hari-harimu selalu menyenangkan. Kudengar Kau sebentar lagi akan diwisuda ya? Wah. Selamat ya atas usahamu. Akhirnya kau benar benar akan menjadi seorang ekonom handal. Seperti yang dulu kau cita-citakan. Hahahaa, betapa aku masih ingat bagaimana dulu kau menceritakan padaku alasan kau menjadi seorang ekonom handal, alasan yang menurutku unik karena dulu kau selalu saja ditunjuk sebagai bendahara di kelas dan di organisasi yang kau masuki. Semoga saja kau nanti juga bisa menjadi bendahara negara kita. Oh iya, kemaren aku berkunjung ke kota rantauanmu. Yogyakarta. Aku berlibur ke sana. Kamu tahu penginapan Yogya kembali? Aku berada di situ hampir genap tujuh hari. Pelayanan di sana cukup memuaskan. Kamarku berada d tempat yang strategis, aku bisa melihat keramaian jalan melalui jendelanya...

Perayaan Hari Lahir, Dapat Apa Pancasila Tahun Ini?

Menjelang 1 Juni, Sang Pancasila akan kembali berulang tahun, sudah siapkah kado kita untuk Sang Pondasi Bangsa? Tidak ada kata terlambat, yuk sama-sama menyiapkan kado terbaik untuk ideologi bangsa kita tercinta ini, toh, biasanya yang spesial, kadonya belakangan, heuheuheu ~ gak gitu juga sih bro. April-Mei merupakan dua bulan, menurut penulis, yang paling nasionalis sepanjang tahun 2019 berjalan. Agenda lima tahunan bangsa indonesia, pemilihan presiden menjadi suatu inisiator bagi hampir sebagian besar rakyat indonesia untuk mulai berpikir dengan negara, pemerintah, kejayaan, sejahtera, dan hal-hal yang berbau nasionalis. Bahkan, momentum nasionalisme yang tercipta sepanjang Bulan April-Mei sepertinya mengalahkan rasa nasionalis dari Bulan Agustus dan Oktober. Isu-isu mulai dari siapa yang paling nasionalis diantara kedua tokoh calon presiden hingga, yang paling terakhir, gerakan kedaulatan rakyat atas nama demokrasi menjadi bahan obrolan sehari-hari masyarakat dan juga p...