Scroll Tanpa Henti: Pengaruh Screen Time terhadap Kesehatan Fisik dan Mental
Scroll Tanpa Henti: Pengaruh Screen Time terhadap Kesehatan Fisik dan Mental
Oleh: Anie Savrina Firdaus
![]() |
| Sumber: Pinterest |
Pernahkah Anda berniat membuka media sosial hanya untuk beberapa menit, tetapi tanpa disadari waktu terus berlalu hingga satu atau bahkan dua jam? Awalnya mungkin hanya ingin membalas pesan, mencari informasi, atau melihat unggahan terbaru. Namun, jari terus menggulir layar tanpa henti, berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lainnya. Aktivitas yang tampak sederhana ini telah menjadi kebiasaan bagi banyak orang di era digital.
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Kini, hampir seluruh aktivitas dapat dilakukan melalui perangkat digital, mulai dari belajar, bekerja, berkomunikasi, berbelanja, hingga mencari hiburan. Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat. Namun, di balik berbagai kemudahan itu, terdapat kebiasaan yang perlu mendapat perhatian, yaitu meningkatnya screen time atau waktu yang dihabiskan di depan layar.
Screen time merupakan jumlah waktu yang digunakan seseorang untuk mengakses perangkat digital yang memiliki layar, seperti telepon pintar, tablet, komputer, maupun laptop. Penggunaan perangkat digital sebenarnya bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Justru, teknologi telah membantu masyarakat memperoleh informasi dengan lebih cepat, mempermudah proses belajar, serta mendukung produktivitas. Akan tetapi, ketika waktu di depan layar berlangsung terlalu lama dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik maupun waktu istirahat yang cukup, berbagai masalah kesehatan dapat muncul.
Salah satu dampak yang paling sering dirasakan adalah gangguan pada kesehatan mata. Menatap layar dalam waktu lama dapat menyebabkan mata terasa lelah, kering, perih, bahkan pandangan menjadi kabur. Kondisi ini dikenal sebagai digital eye strain. Selain itu, seseorang cenderung lebih jarang berkedip ketika fokus menatap layar sehingga permukaan mata menjadi lebih cepat kering.
Tidak hanya mata, kualitas tidur juga dapat terganggu akibat penggunaan perangkat digital, terutama pada malam hari. Cahaya biru (blue light) yang dipancarkan layar diketahui dapat menghambat produksi hormon melatonin, yaitu hormon yang berperan dalam mengatur siklus tidur. Akibatnya, seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur dan kualitas tidurnya menurun. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan layar sebelum tidur berkaitan dengan durasi tidur yang lebih pendek dan kualitas tidur yang lebih buruk.
Dampak screen time yang berlebihan tidak hanya dirasakan oleh tubuh, tetapi juga kesehatan mental. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan perangkat digital secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko stres, kecemasan, penurunan kesejahteraan psikologis, hingga gejala depresi. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di media sosial. Informasi yang ditampilkan sering kali hanya menunjukkan sisi terbaik seseorang, sehingga tanpa disadari muncul perasaan tidak puas terhadap diri sendiri atau merasa tertinggal dari orang lain.
Selain itu, kebiasaan doomscrolling, yaitu terus-menerus membaca berita atau konten negatif tanpa henti, juga dapat memperburuk kondisi emosional. Paparan informasi yang berlebihan membuat otak terus bekerja tanpa memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat. Akibatnya, seseorang menjadi lebih mudah merasa cemas, sulit berkonsentrasi, dan mengalami kelelahan secara emosional.
Meskipun demikian, bukan berarti perangkat digital harus dijauhi sepenuhnya. Yang terpenting adalah menggunakannya secara bijaksana dan seimbang. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah menerapkan aturan 20-20-20, yaitu setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek yang berjarak sekitar 20 kaki (6 meter) selama 20 detik untuk membantu mengurangi ketegangan pada mata. Selain itu, membatasi penggunaan perangkat digital sebelum tidur, rutin melakukan aktivitas fisik, serta meluangkan waktu untuk berinteraksi secara langsung dengan keluarga dan teman juga dapat membantu menjaga kesehatan fisik maupun mental.
Saat ini, sebagian besar perangkat digital telah dilengkapi dengan fitur yang dapat memantau durasi penggunaan layar setiap hari. Fitur tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi apakah waktu yang dihabiskan di depan layar benar-benar digunakan untuk aktivitas yang bermanfaat atau justru lebih banyak terbuang untuk kebiasaan scrolling tanpa tujuan.
Perangkat digital telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Oleh karena itu, tantangan yang dihadapi bukanlah bagaimana menghindari teknologi, melainkan bagaimana menggunakannya secara sehat. Ketika waktu bersama keluarga mulai tergantikan oleh layar, ketika waktu tidur semakin berkurang karena media sosial, atau ketika tubuh menjadi semakin jarang bergerak, mungkin sudah saatnya kita mengevaluasi kembali kebiasaan menggunakan perangkat digital.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu meningkatkan kualitas hidup, bukan sebaliknya. Dengan membatasi screen time, menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan aktivitas fisik, serta memberikan waktu yang cukup bagi tubuh dan pikiran untuk beristirahat, kita dapat memperoleh manfaat teknologi tanpa mengorbankan kesehatan. Di era digital seperti sekarang, menjadi pengguna perangkat digital yang bijaksana merupakan salah satu langkah penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental.
Daftar Pustaka
Harvard Health Publishing. (2024, July 24). Blue light has a dark side. https://www.health.harvard.edu/healthy-aging-and-longevity/blue-light-has-a-dark-side
Priftis, N., Panagiotakos, D. B., Christodoulou, M., Kassianos, A. P., Stylianou, N., & Andreou, E. (2023). Screen Time and Its Health Consequences in Children and
Adolescents. Children, 10(10), 1665. https://doi.org/10.3390/children10101665
Stiglic, N., & Viner, R. M. (2019). Effects of screentime on the health and well- being of children and adolescents: A systematic review of reviews. BMJ Open, 9(1), e023191. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2018-023191
World Health Organization. (2020). WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015128

insightfull bangettttt
BalasHapus