Pengaruh Kurangnya Aktivitas Fisik terhadap Kesehatan Mental pada Mahasiswa

 “Pengaruh Kurangnya Aktivitas Fisik terhadap Kesehatan Mental pada Mahasiswa"

Oleh: Muhammad Rafi Firdaus

Sumber: Pinterest 


Pendahuluan

Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup pada era modern menyebabkan  aktivitas fisik masyarakat semakin menurun, termasuk pada kalangan mahasiswa.  Berbagai kemudahan teknologi membuat banyak aktivitas dapat dilakukan anpa perlu  banyak bergerak. Mahasiswa saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk belajar,  mengerjakan tugas, mengikuti perkuliahan daring, maupun menggunakan media sosial  dalam posisi duduk dalam waktu yang lama.

Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu masalah kesehatan yang sering diabaikan.  Padahal, aktivitas fisik tidak hanya berperan dalam menjaga kesehatan tubuh, tetapi  juga memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan mental. Mahasiswa sebagai  kelompok usia produktif sering menghadapi berbagai tekanan, seperti tuntutan akademik, organisasi, masalah keuangan, serta penyesuaian sosial yang dapat  memengaruhi kondisi psikologis mereka.

Kesehatan mental merupakan kondisi ketika seseorang mampu mengelola emosi,  menghadapi stres kehidupan, dan berfungsi secara optimal dalam aktivitas sehari-hari.  Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental pada  mahasiswa terus mengalami peningkatan. Stres, kecemasan, hingga depresi menjadi  masalah yang cukup banyak ditemukan pada kelompok usia ini.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), aktivitas fisik yang kurang  merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memengaruhi kesehatan mental  seseorang. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana kurangnya aktivitas  fisik dapat berdampak terhadap kondisi psikologis mahasiswa agar dapat dilakukan  upaya pencegahan yang tepat.

Sumber: Pinterest 

Pembahasan

Aktivitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang  memerlukan pengeluaran energi. Aktivitas fisik tidak hanya berupa olahraga, tetapi  juga mencakup berjalan kaki, bersepeda, menaiki tangga, maupun berbagai aktivitas  sehari-hari lainnya. Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik ditandai dengan kebiasaan duduk terlalu lama dan minim melakukan gerakan tubuh.

Salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya aktivitas fisik pada mahasiswa adalah  padatnya kegiatan akademik. Banyak mahasiswa menghabiskan sebagian besar  waktunya untuk menghadiri perkuliahan, mengerjakan tugas, belajar menghadapi  ujian, serta melakukan penelitian. Kesibukan tersebut sering membuat mahasiswa  mengabaikan pentingnya berolahraga secara rutin.

Selain itu, penggunaan teknologi digital juga berkontribusi terhadap menurunnya  aktivitas fisik. Mahasiswa cenderung menghabiskan waktu berjam-jam menggunakan  laptop, smartphone, maupun media sosial. Kebiasaan ini menyebabkan gaya hidup  sedentari atau kurang bergerak yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan fisik  dan mental.

Kurangnya aktivitas fisik dapat memengaruhi kesehatan mental melalui berbagai  mekanisme. Saat seseorang melakukan aktivitas fisik atau olahraga, tubuh akan  menghasilkan hormon endorfin, serotonin, dan dopamin yang berperan dalam meningkatkan suasana hati serta mengurangi stres. Jika aktivitas fisik berkurang, produksi hormon-hormon tersebut juga menjadi tidak optimal sehingga seseorang lebih  rentan mengalami gangguan suasana hati.

Mahasiswa yang jarang berolahraga cenderung mengalami tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa yang aktif secara fisik. Aktivitas fisik dapat membantu tubuh mengurangi ketegangan akibat stres dan memberikan efek relaksasi. Oleh karena  itu, kurang bergerak dapat menyebabkan stres menjadi lebih sulit dikendalikan.

Selain stres, kurangnya aktivitas fisik juga berhubungan dengan meningkatnya risiko kecemasan dan depresi. Mahasiswa yang kurang aktif secara fisik sering mengalami perasaan lelah, kurang bersemangat, dan kehilangan motivasi dalam menjalani  aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan psikologis apabila berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Kurangnya aktivitas fisik juga berdampak terhadap kualitas tidur. Banyak mahasiswa  yang memiliki pola tidur tidak teratur akibat tugas kuliah dan penggunaan gawai yang  berlebihan. Padahal, aktivitas fisik yang cukup dapat membantu meningkatkan kualitas  tidur. Ketika kualitas tidur menurun, kemampuan konsentrasi, daya ingat, dan  kestabilan emosi juga ikut terganggu.

Dampak lain yang dapat muncul adalah menurunnya rasa percaya diri. Aktivitas fisik  membantu menjaga kebugaran tubuh dan meningkatkan citra diri seseorang.  Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik dapat menyebabkan penurunan kondisi fisik yang  berpotensi memengaruhi kepercayaan diri mahasiswa dalam berinteraksi maupun  beraktivitas.

Masalah kesehatan mental yang terjadi pada mahasiswa tidak hanya berdampak pada  individu, tetapi juga dapat memengaruhi prestasi akademik dan produktivitas.  Mahasiswa yang mengalami stres, kecemasan, atau depresi sering mengalami kesulitan berkonsentrasi sehingga kemampuan belajar menjadi menurun. Jika tidak ditangani  dengan baik, kondisi ini dapat menghambat pencapaian akademik dan perkembangan diri mahasiswa.

Untuk mencegah dampak tersebut, mahasiswa perlu meningkatkan aktivitas fisik  secara rutin. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, jogging, senam, atau  olahraga ringan lainnya dapat dilakukan secara teratur. WHO merekomendasikan  aktivitas fisik intensitas sedang selama minimal 150 menit per minggu untuk menjaga  kesehatan fisik dan mental. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mahasiswa.  Kampus dapat menyediakan fasilitas olahraga, mengadakan kegiatan olahraga bersama, serta memberikan edukasi mengenai pentingnya aktivitas fisik bagi kesehatan  mental. Selain itu, mahasiswa perlu mengatur waktu penggunaan gawai dan meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas di luar ruangan agar terhindar dari gaya hidup sedentari.

Penutup

Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi  kesehatan mental mahasiswa. Padatnya aktivitas akademik, penggunaan teknologi  yang berlebihan, serta gaya hidup sedentari menyebabkan banyak mahasiswa kurang  bergerak dan jarang berolahraga. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stres,  kecemasan, depresi, gangguan tidur, serta menurunnya rasa percaya diri.

Oleh karena itu, aktivitas fisik perlu menjadi bagian penting dalam gaya hidup  mahasiswa. Dengan melakukan aktivitas fisik secara rutin, mahasiswa dapat menjaga  kesehatan tubuh sekaligus meningkatkan kesehatan mental. Dukungan dari keluarga,  lingkungan kampus, dan tenaga kesehatan juga diperlukan untuk menciptakan generasi  muda yang sehat, produktif, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.


Daftar Pustaka

Indonesian National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS). Laporan Nasional  Kesehatan Mental Remaja Indonesia. 2024. 

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental  Remaja. 2023. 

Rahmawati, D., & Putri, A. “Pengaruh Media Sosial terhadap Kesehatan Mental  Remaja.” Jurnal Kesehatan Masyarakat, 12(2), 2023. 

Sari, N. “Peran Keluarga dalam Pencegahan Gangguan Mental pada Remaja.” Jurnal  Promosi Kesehatan Indonesia, 19(1), 2024

World Health Organization (WHO). Mental Health of Adolescents. 2024.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusuri Jejak Kesehatan: Dari Tradisi ke Teknologi Modern

Medical Training CSSMoRA UIN JAKARTA 2025

TEMU REGIONAL 1 CSSMoRA NASIONAL