Leptospirosis: Ancaman Kesehatan Pasca Banjir yang Perlu Diwaspadai Bersama
Leptospirosis: Ancaman Kesehatan Pasca Banjir yang Perlu Diwaspadai Bersama
Oleh: Aisyah Nur lathiifah
![]() |
| Sumber: Pexels |
Setiap musim hujan dan banjir, masyarakat sering kali fokus pada dampak yang terlihat secara langsung, seperti kerusakan rumah atau gangguan aktivitas sehari-hari. Namun, dibalik genangan air yang perlahan surut, terdapat ancaman kesehatan yang kerap luput dari perhatian, salah satunya adalah leptospirosis. Penyakit ini bukan sekadar masalah medis, melainkan persoalan kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan lingkungan, perilaku, dan sistem pencegahan yang belum optimal (Sulasmi et al., 2025; Erlani et al., 2025).
Apa Itu Leptospirosis?
Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penularannya terjadi dari hewan ke manusia, terutama melalui kontak dengan air atau tanah yang terkontaminasi urine hewan terinfeksi, khususnya tikus. Dalam perspektif kesehatan masyarakat, leptospirosis digolongkan sebagai penyakit berbasis lingkungan yang kemunculannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sanitasi dan perilaku hidup masyarakat (Sulasmi et al., 2025).
![]() |
| Sumber: Pinterest |
Bagaimana Pola Penyebarannya?
Leptospirosis banyak ditemukan di wilayah tropis seperti Indonesia, dengan peningkatan kasus yang signifikan pada musim hujan dan setelah kejadian banjir. Daerah padat penduduk, kawasan dengan sistem drainase buruk, serta lingkungan dengan pengelolaan sampah yang tidak optimal menjadi lokasi yang rentan terhadap penyebaran penyakit ini. Data menunjukkan bahwa kasus leptospirosis masih dilaporkan setiap tahun di berbagai wilayah Indonesia, dengan angka kematian yang tidak bisa diabaikan (Ningsih, 2022; Erlani et al., 2025).
Jika dilihat dari sudut pandang epidemiologi, kelompok yang paling berisiko adalah laki-laki usia produktif, pekerja lapangan, petani, petugas kebersihan, sertamasyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir. Pola waktunya pun cukup jelas, yaitu meningkat pada periode curah hujan tinggi, yang menunjukkan kuatnya hubungan antara lingkungan dan kejadian leptospirosis (Shofi Ayu Nur et al., 2024).
Mengapa Leptospirosis Bisa Terjadi?
Agen penyebab leptospirosis adalah bakteri Leptospira yang mampu bertahan hidupdi lingkungan lembap. Bakteri ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui luka kecil dikulit, selaput lendir, atau kulit yang terendam air tercemar dalam waktu lama. Kondisi ini menjelaskan mengapa aktivitas seperti berjalan tanpa alas kaki di air banjir ataumembersihkan lingkungan pascabanjir tanpa pelindung diri menjadi sangat berisiko (Erlani et al., 2025).
Selain faktor lingkungan, perilaku masyarakat turut berperan besar. Kebiasaan tidak menggunakan alas kaki, rendahnya praktik mencuci tangan dengan sabun, serta minimnya penggunaan alat pelindung diri memperbesar peluang terjadinya infeksi. Kombinasi antara lingkungan yang tidak sehat dan perilaku berisiko inilah yang menjadikan leptospirosis sebagai masalah kesehatan masyarakat yang kompleks (Endarto, 2020; Royanialita, 2017).
Tantangan dalam Penegakan Diagnosis
Leptospirosis sering disebut sebagai penyakit yang menyamar karena gejalanya tidak khas. Demam, nyeri otot, sakit kepala, dan mata kemerahan sering kali dianggap sebagai flu biasa atau penyakit infeksi lainnya. Akibatnya, banyak kasus baru terdeteksi ketika kondisi sudah memburuk. Dalam konteks kesehatan masyarakat, keterlambatan diagnosis ini berkontribusi pada tingginya angka keparahan dan kematian akibat leptospirosis (Ningsih, 2022; Widjajanti et al., 2018).
Memahami Rantai Infeksi
Rantai penularan leptospirosis dimulai dari bakteri Leptospira sebagai agenpenyakit, dengan tikus sebagai reservoir utama. Bakteri keluar melalui urine hewan, mencemari air atau tanah, lalu masuk ke tubuh manusia melalui kulit atau mukosa. Memahami rantai ini menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan, karena intervensi dapat dilakukan pada setiap mata rantai, mulai dari pengendalian tikus hingga perlindungan individu yang berisiko (Ayu Nur et al., 2024).
Rencana Aksi Penanggulangan
Dalam pendekatan kesehatan masyarakat, penanggulangan leptospirosis tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan. Rencana Aksi Penanggulangan (RAP) harus mencakup upaya promotif, preventif, dan kuratif secara terpadu. Edukasi masyarakat, perbaikan sanitasi lingkungan, serta penguatan sistem deteksi dini di fasilitas kesehatan menjadi langkah penting untuk menekan angka kesakitan dan kematian akibat leptospirosis (Sulasmi et al., 2025).
Gejala Klinis yang Perlu Diwaspadai
Gejala leptospirosis dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam tinggi mendadak, nyeri otot, sakit kepala, dan mata kemerahan. Pada kasus yang lebih berat, dapat terjadi komplikasi serius seperti gangguan ginjal, kerusakan hati, perdarahan, hingga kondisi fatal yangdikenal sebagai sindrom Weil. Variasi gejala ini menuntut kewaspadaan tinggi, terutama pada individu dengan riwayat paparan air banjir (Ningsih, 2022).
Pencegahan dan Pengendalian Berbasis Masyarakat
Pencegahan leptospirosis sejatinya dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah dengan baik,menggunakan alas kaki saat banjir, serta menutup luka terbuka. Namun, agar upaya ini berkelanjutan, diperlukan program pengendalian yang melibatkan masyarakat secara aktif. Edukasi kesehatan, pemberdayaan komunitas, dan penguatan surveilans epidemiologi terbukti efektif dalam menurunkan risiko leptospirosis di wilayah rawan (Shofi Ayu Nur et al., 2024; Sanaky, 2021).
Penutup
Leptospirosis bukan sekadar penyakit individu, melainkan cerminan dari kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Dengan meningkatnya frekuensi banjir akibat perubahan iklim dan urbanisasi, ancaman leptospirosis berpotensi semakin besar. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah dan mengendalikan penyakit ini secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Ayu Nur, S., & rekan. (2024). Upaya pencegahan leptospirosis berbasis lingkungan dan perilaku masyarakat. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 15(2), 373–382.
Endarto. (2020). Hubungan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kejadian leptospirosis. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 8(1), 31–43.
Erlani, R., dkk. (2025). Faktor risiko kejadian leptospirosis di wilayah endemis. Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia, 9(2), 1300–1306.
Ningsih, I. (2022). Leptospirosis sebagai masalah kesehatan masyarakat di daerah rawan banjir. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, 12(1), 31–43.
Royanialita. (2017). Peran personal hygiene terhadap kejadian penyakit zoonosis. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 6(2), 45–52.
Sanaky. (2021). Edukasi kesehatan dalam pencegahan penyakit berbasis lingkungan. Jurnal Promosi Kesehatan Indonesia, 14(3), 210–218.
Shofi Ayu Nur, S., dkk. (2024). Distribusi spasial leptospirosis dan faktor lingkungan di Indonesia. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 19(4), 373–382.Sulasmi, dkk. (2025). Rencana aksi penanggulangan leptospirosis berbasis masyarakat. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 17(1), 1–10.
Widjajanti, A., dkk. (2018). Tantangan diagnosis leptospirosis di layanan kesehatan. Jurnal Penyakit Infeksi Indonesia, 6(3), 150–158.


Komentar
Posting Komentar