Darurat Kesehatan Ganda: Waspada Polusi Udara dan "Silent Pandemic" Diabetes di Indonesia
Darurat Kesehatan Ganda: Waspada Polusi Udara dan "Silent Pandemic" Diabetes di Indonesia
Oleh: Fakhri Hukama Wahyu
Indonesia saat ini menghadapi beban ganda penyakit yang serius. Di satu sisi, faktor lingkungan seperti polusi udara terus mengancam kesehatan pernapasan. Di sisi lain, perubahan gaya hidup memicu lonjakan penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, bahkan pada kelompok usia muda.
Artikel ini mengulas fakta, data terbaru, dan langkah pencegahan berdasarkan pedoman resmi Kementerian Kesehatan RI.
1. Ancaman Nyata: Polusi Udara dan Lonjakan Kasus ISPA
Kualitas udara yang buruk di kota-kota besar (khususnya Jabodetabek) telah terbukti berkorelasi langsung dengan peningkatan kasus gangguan pernapasan.
Fakta & Data Terbaru (2024-2025):
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat adanya tren kenaikan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan pneumonia, terutama pada kelompok rentan seperti balita dan lansia.
- Korelasi Polusi: Data Kemenkes menegaskan bahwa memburuknya kualitas udara (PM2.5) menjadi pemicu utama lonjakan kasus ISPA pada anak-anak dalam dua tahun terakhir.
- Beban Penyakit: Polusi udara berkontribusi besar terhadap penyakit respirasi yang menjadi salah satu dari penyakit dengan biaya pengobatan tertinggi di BPJS Kesehatan.
Gejala yang Harus Diwaspadai:
- Batuk dan pilek yang tidak kunjung sembuh.
- Sesak napas (napas cepat pada anak).
- Iritasi mata dan tenggorokan saat beraktivitas di luar ruangan.
- Prevalensi Meningkat: Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas (Data 2024-2025), jumlah penderita diabetes di Indonesia diperkirakan telah melampaui 20 juta jiwa. Indonesia secara konsisten masuk dalam daftar negara dengan jumlah penderita diabetes tertinggi di dunia.
- Tren Usia Muda: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) terbaru menunjukkan kenaikan prevalensi diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun, yang melonjak hingga angka kisaran 11,7%.
- Biaya Katastropik: Diabetes dan komplikasinya (gagal ginjal, stroke, penyakit jantung) menyerap anggaran BPJS Kesehatan triliunan rupiah setiap tahunnya.
- 50% Piring: Buah-buahan dan Sayuran (Serat).
- 35% Piring: Makanan Pokok (Karbohidrat).
- 15% Piring: Lauk Pauk (Protein).
- Cek kesehatan secara rutin (minimal 6 bulan-1 tahun sekali).
- Enyahkan asap rokok.
- Rajin aktivitas fisik (minimal 30 menit/hari).
- Diet seimbang (batasi Gula, Garam, Lemak).
- Istirahat cukup.
- Kelola stres.
| Masalah | Tindakan Pencegahan |
|---|---|
| Polusi Udara |
Pantau indeks kualitas udara (melalui aplikasi). Gunakan masker medis/KF94 saat polusi tinggi.
Pastikan ventilasi rumah baik atau gunakan air purifier. |
| Gula Darah | Kurangi minuman manis kekinian. Lakukan skrining gula darah puasa di Puskesmas atau klinik terdekat setidaknya setahun sekali. |
| Aktivitas Fisik |
Hindari duduk terlalu lama. Lakukan jalan kaki atau olahraga ringan di dalam ruangan jika
udara luar sedang buruk. |
- Kementerian Kesehatan RI & Ayo Sehat. Diakses di: https://ayosehat.kemkes.go.id/isi-piringku-pedoman-makan-kekinian-orang-indonesia
- CNN Indonesia & Kemenkes (2024). Diakses di: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20241016083320-255-1155823/kemenkes-peningkatan-kasus-ispa-anak-dipicu-kualitas-udara-buruk-ri
- Databoks Katadata (2024). Diakses di: https://databoks.katadata.co.id/layanan- konsumen-kesehatan/statistik/8a95a31a9cb29b4/prevalensi-diabetes-indonesia-naik-jadi-117-pada-2023
- VOA Indonesia (2024). Diakses di: https://www.voaindonesia.com/a/jumlah-penderita-diabetes-di-indonesia-terus-meningkat/7870777.html
- Kementerian Kesehatan (P2PTM). Diakses di: https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/172602108466e0fddcd17b94.73789436.pdf

Komentar
Posting Komentar