SEGO GANDUL MBOK MARLINA
SEGO GANDUL MBOK MARLINA
Oleh: Nohan Arimbi
Bukan berarti aku tak ingat masa-masa
berjuang menyelesaikan skripsi di tahap akhir kuliahku. Yah bagaimana tidak
baper, aku yang penelitian tapi kau yang senantiasa menunggu di perempatan
Lampar sejak pagi buta. Tau saja aku ini penakut. Paling tergambar di memori
sampai saat ini ya kita sama-sama tak ada uang. Mungkin cukup buat beli es teh
dan gorengan. Dana pasti ya yang terpenting buat bensin.
Memang namanya hidup tak mungkin berjalan
mulus layaknya kain sutra atau manisnya rambut nenek. Ada saja ujian, misalnya ada
yang diajak berjuang tapi tak bisa sebangku di pelaminan. Di jalanan bogor
masih ku catat, bagaimana dirimu mencoba melindungiku dari terpaan hujan dan
kertas penelitianku bercecer di jalanan. Jelas saja namanya perempuan pasti
menangis, ya setidaknya tidak ngepor-ngepor dan membabi buta (red: haha).
Aku tau dirimu panik, Cuma ya egoku lebih
tinggi. Dari pada lulus telat mending di forsir dan hujan-hujan. Mana sempat
memikirkan biaya puskesmas kalau flu mendera. Simpel saja seharusnya jadi
laki-laki, dirimu misalnya hanya diam dan bertindak. Aku ngomelpun kau diam,
mencari suasana baik mengajakku curhat colongan. Nah bagian ini paling kusuka,
Sego Gandul Mbok Marlina bisa kukunjungi (red: haha). Paling tidak sebulan
sekali hasil menyisihkan uang dari freelance bisa buat makan nasi lauk
hati sapi atau paru.
Sedih memang jalan cerita ini, tapi ini
paling kencang ingatannya. Kaya kilat pas lagi cetar-cetarnya. Hampir 2 tahun
ini kita mempunyai tujuan masing-masing dan ada impian yang harus diselesaikan.
Tidak ada yang patut dipermasalahkan, perbedaan bukan berarti tak bisa
bersahabat bukan? Setidaknya Mbok Marlina pernah jadi saksi hidup kita berdebat
dan langganan tempat curhat, misalnya kenapa Sego Gandul disajikan panas-panas.
Padahal kita datang dengan suasana hati panas (red: haha).
Komentar
Posting Komentar