Menyikapi PBSB 2016

Pengumuman PBSB Kementerian Agama RI 2016 telah dirilis. Tentu ini menjadi kegembiraan dan momentum tersendiri untuk teman-teman santri di seluruh Indonesia. Program yang membuka akses pada pendidikan tinggi ini tetap ditunggu-tunggu.
Tapi ternyata, setelah kita lihat, ada beberapa pengurangan kuota dalam kursi penerima PBSB di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dan lagi, turut dibuka pula mitra PTN PBSB di luar Jawa. Bagaimana opini yang ada terhadap keadaan itu?

Minggu ini, DENTA akan mengusung beberapa aspirasi dari teman-teman penerima PBSB.
Berikut argumentasi dari sebagian teman-teman CSSMoRA UIN Jakarta!




 Widya Prayoga, 2013

Bagaimanapun juga sikap saya sebagai santri yg dibina Kemenag sangat apresiasi dengan masih adanya program tersebut. Terlebih dibuka di banyak universitas, yang menyebabkan pilihan tempat lebih bervariasi. Namun demikian saya sangat menyayangkan pengurangan kuota untuk beberapa PTN akibat dampak penurunan anggaran. Pada hakikatnya mitra Kemenag, dalam artian PTN yg sudah bekerja sama justru kuotanya ditambah. Dalam konteks sekarang pemerataan justru hanya mengacu jumlah mitra yg diajak kerja sama, bukan pemerataan jumlah santri yang diterima PBSB. Padahal jika dimaksimalkan di PTN yg sudah-sudah, rasanya jurusan yang ditawarkan sudah memenuhi kebutuhan pesantren di Indonesia namun kuotanya terlalu kecil untuk merepresentasikan santri seluruh nusantara.
Jadi hemat saya, lebih baik jumlah kuota dinaikan pada perguruan tinggi yg sudah ada. Pemerataan terhadap representatif santri nusantara, bukan pemerataan tempat kuliah. Toh meski berkuliah di Jawa peserta PBSB banyak dari seantero nusantara.



Wildanul Akhyar 2013

Menurut saya, pada kebijakan baru mengenai jumlah peserta yang diterima di PBSB sebenarnya untuk pengurangan kuota dirasa kurang tepat, karena melihat kondisi SDM Indonesia yang masih kurang, apalagi untuk pengembangan pesantren dirasa sangat perlu.
Analoginya santri yang mengabdi dengan jumlah 5 orang dan 1 orang, pastinya lebih membantu dan terberdayakan dengan 5 santri yang mengabdi. Masalah pemerataan mungkin bagus untuk dilakukan karena dair beberapa tahun terakhir banyak terfokus di pulau Jawa. Dan yang terpenting adalah kelanjutan pembinaan bagi PBSB yang setelah di perkuliahan harus dijaga agar tidak lepas dari pengawasan pengelola.



Isna Khumairotin, 2015
 
Banyak opini yang saya baca, mulai dari pembatasan karena kurang efektifnya PBSB, Kemenag ingin fokus ke Prodi Kesehatan, pengalihan beasiswa ke luar negeri, sampai karena kekurangan anggaran. Semua itu bisa jadi alasannya. Bagaimanapun juga, pengurangan kuota adalah momok bagi calon pendaftar.
Terlepas dari itu semua, terlihat jelas wacana Kemenag yang memang memfokuskan PBSB di Indonesia bagian timur. Dengan tambahan 2 PTN mitra di daerah Indonesia tengah dan timur, peluang bagi santri di daerah sana juga semakin besar.
Saya setuju saja dengan pemerataan kali ini, tapi pengurangan kuota masih disayangkan. La wong, PBSB ini yang dibanggakan santri, tapi justru sekarang diperkecil peluangnya.





Iqbal Dzaky 2013



Selama bertahun-tahun ini Jawa bisa dibilang sebagai  pulau sentral dari semua peradaban Indonesia, dan tak luput juga pendidikan. Kenapa harus mencari yang jauh kalau sebenarnya di tanah sendiri itu lebih hijau dan subur? Kenapa kita tidak mencoba menabur benih baru di sisi lain tanah itu? Atau, dengan menambah jumlah benih di tanah yang telah kita punya?


Mungkin, hanya ingin menanggapi tentang adanya PTN mitra tambahan ini. Secara geografis mungkin akan menambah daya sebar dari jangkauan beasiswa PBSB itu sendiri, tapi ada baiknya seharusnya pengelola lebih mengevaluasi secara objektif lagi bagaimana langkah itu kedepannya.
 

Iqbal Chusni 2013

Penurunan kuota PBSB ini sepatutnya menjadi bahan renungan untuk CSSMoRA, bisa saja Kemenag menurunkan kuota karena prestasi mahasiswa CSSMoRA ini turun, mungkin saja.
Banyak juga yang menerka-menerka sebab penurunan kuota ini. Saya juga pernah dengar, pengurangan kuota ini karena Kemenag tidak lagi hanya berfokus ke penambahan kader PBSB tapi juga ada fokus ke pemberdayaan alumni. Tapi entahlah, ada baiknya kita huznudhon ke Kemenag.



Tetap pantau DENTA, dan buat argumentasimu di DENTA minggu depan :) 
 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyusuri Jejak Kesehatan: Dari Tradisi ke Teknologi Modern

Medical Training CSSMoRA UIN JAKARTA 2025

Halal Bihalal CSSMoRA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1446 H: Bersama Meraih Berkah, Bersama Membangun Ukhuwah