Menyikapi PBSB 2016
Pengumuman PBSB Kementerian Agama RI 2016 telah dirilis. Tentu ini menjadi kegembiraan dan momentum tersendiri untuk teman-teman santri di seluruh Indonesia. Program yang membuka akses pada pendidikan tinggi ini tetap ditunggu-tunggu.
Tapi ternyata, setelah kita lihat, ada beberapa pengurangan kuota dalam kursi penerima PBSB di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dan lagi, turut dibuka pula mitra PTN PBSB di luar Jawa. Bagaimana opini yang ada terhadap keadaan itu?
Minggu ini, DENTA akan mengusung beberapa aspirasi dari teman-teman penerima PBSB.
Berikut argumentasi dari sebagian teman-teman CSSMoRA UIN Jakarta!
Bagaimanapun juga sikap saya sebagai santri yg dibina Kemenag
sangat apresiasi dengan masih adanya program tersebut. Terlebih dibuka di banyak
universitas, yang menyebabkan pilihan tempat lebih bervariasi. Namun
demikian saya sangat menyayangkan pengurangan kuota untuk beberapa PTN akibat
dampak penurunan anggaran. Pada hakikatnya mitra Kemenag, dalam artian PTN yg
sudah bekerja sama justru kuotanya ditambah. Dalam konteks sekarang pemerataan justru hanya mengacu
jumlah mitra yg diajak kerja sama, bukan pemerataan jumlah santri yang diterima PBSB. Padahal jika dimaksimalkan di PTN yg
sudah-sudah, rasanya jurusan yang
ditawarkan sudah memenuhi kebutuhan pesantren di Indonesia namun kuotanya terlalu kecil untuk merepresentasikan santri
seluruh nusantara.
Banyak opini yang saya baca, mulai
dari pembatasan karena kurang efektifnya PBSB, Kemenag ingin fokus ke Prodi Kesehatan, pengalihan beasiswa ke luar negeri, sampai
karena kekurangan anggaran. Semua itu bisa jadi alasannya. Bagaimanapun juga,
pengurangan kuota adalah momok bagi calon pendaftar.
Tapi ternyata, setelah kita lihat, ada beberapa pengurangan kuota dalam kursi penerima PBSB di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dan lagi, turut dibuka pula mitra PTN PBSB di luar Jawa. Bagaimana opini yang ada terhadap keadaan itu?
Minggu ini, DENTA akan mengusung beberapa aspirasi dari teman-teman penerima PBSB.
Berikut argumentasi dari sebagian teman-teman CSSMoRA UIN Jakarta!
Widya Prayoga, 2013
Bagaimanapun juga sikap saya sebagai santri yg dibina Kemenag
sangat apresiasi dengan masih adanya program tersebut. Terlebih dibuka di banyak
universitas, yang menyebabkan pilihan tempat lebih bervariasi. Namun
demikian saya sangat menyayangkan pengurangan kuota untuk beberapa PTN akibat
dampak penurunan anggaran. Pada hakikatnya mitra Kemenag, dalam artian PTN yg
sudah bekerja sama justru kuotanya ditambah. Dalam konteks sekarang pemerataan justru hanya mengacu
jumlah mitra yg diajak kerja sama, bukan pemerataan jumlah santri yang diterima PBSB. Padahal jika dimaksimalkan di PTN yg
sudah-sudah, rasanya jurusan yang
ditawarkan sudah memenuhi kebutuhan pesantren di Indonesia namun kuotanya terlalu kecil untuk merepresentasikan santri
seluruh nusantara.
Jadi hemat saya, lebih baik jumlah kuota dinaikan pada
perguruan tinggi yg sudah ada. Pemerataan terhadap representatif santri
nusantara, bukan pemerataan tempat kuliah. Toh meski berkuliah di Jawa peserta PBSB banyak dari seantero nusantara.
Menurut
saya, pada kebijakan baru mengenai jumlah peserta yang diterima
di PBSB sebenarnya untuk pengurangan kuota dirasa kurang tepat, karena melihat
kondisi SDM Indonesia yang masih kurang, apalagi untuk pengembangan pesantren
dirasa sangat perlu.
Analoginya santri yang mengabdi dengan jumlah 5 orang dan
1 orang, pastinya lebih membantu dan terberdayakan dengan 5 santri yang mengabdi. Masalah pemerataan mungkin
bagus untuk dilakukan karena dair beberapa tahun terakhir banyak terfokus
di pulau Jawa. Dan
yang terpenting adalah kelanjutan pembinaan bagi PBSB yang setelah di
perkuliahan harus dijaga agar tidak lepas dari pengawasan pengelola.
Isna Khumairotin, 2015
Banyak opini yang saya baca, mulai
dari pembatasan karena kurang efektifnya PBSB, Kemenag ingin fokus ke Prodi Kesehatan, pengalihan beasiswa ke luar negeri, sampai
karena kekurangan anggaran. Semua itu bisa jadi alasannya. Bagaimanapun juga,
pengurangan kuota adalah momok bagi calon pendaftar.
Terlepas
dari itu semua, terlihat jelas wacana Kemenag
yang memang memfokuskan PBSB di Indonesia
bagian timur. Dengan tambahan 2 PTN mitra di daerah Indonesia tengah dan timur, peluang bagi santri di daerah
sana juga semakin besar.
Saya setuju saja dengan pemerataan kali ini, tapi
pengurangan kuota masih disayangkan. La wong, PBSB ini yang dibanggakan
santri, tapi justru sekarang diperkecil peluangnya.
Selama bertahun-tahun ini Jawa bisa dibilang sebagai pulau sentral dari semua peradaban Indonesia,
dan tak luput juga pendidikan. Kenapa harus mencari yang jauh kalau sebenarnya
di tanah sendiri itu lebih hijau dan subur? Kenapa kita tidak mencoba menabur
benih baru di sisi lain tanah itu? Atau, dengan menambah jumlah benih di tanah
yang telah kita punya?
Mungkin,
hanya ingin menanggapi tentang adanya PTN mitra tambahan ini. Secara geografis
mungkin akan menambah daya sebar dari jangkauan beasiswa PBSB itu sendiri, tapi
ada baiknya seharusnya pengelola lebih mengevaluasi secara objektif lagi
bagaimana langkah itu kedepannya.
Iqbal Chusni
2013
Penurunan kuota PBSB ini sepatutnya menjadi bahan renungan untuk CSSMoRA,
bisa saja Kemenag menurunkan kuota karena prestasi mahasiswa CSSMoRA ini turun, mungkin saja.
Banyak juga yang
menerka-menerka sebab penurunan kuota ini. Saya juga pernah dengar, pengurangan kuota ini karena Kemenag
tidak lagi hanya berfokus ke penambahan kader PBSB tapi juga ada fokus ke
pemberdayaan alumni. Tapi
entahlah, ada baiknya kita huznudhon ke Kemenag.
Tetap pantau DENTA, dan buat argumentasimu di DENTA minggu depan :)



Komentar
Posting Komentar